Tahun ajaran 2008/2009 bagiku terasa sangat berat. Beberapa diantara siswaku kelas 9 di SMP sering curhat kepadaku terutama mengenai kelanjutan studi mereka. Sebagai salah seorang guru mereka, ku ingin dapat membantu mengatasi segala permasalahan yang sedang mereka hadapi…..
Mengenai kelanjutan studi, ku sering diminta pertimbangan siswa-siswaku. Dari sekian dari siswa-siswaku yang meminta pertimbangan, ada seorang siswaku (seut saja “Solihin”) yang cerita bahwa ia ingin sekali melanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu masuk ke SMK Negeri, begitulah harapannya.
Dia bercerita, orang tuanya tidak mampu untuk membiayai jika harus melanjutkan sekolah lagi … Dia bilang kepadaku Pak sebenarnya saya ingin melanjutkan, tapi oleh ibu saya gak boleh dan ibu saya bilang “Wong bayar sekolah di SMP aja sulit, jadi gak usah melanjutkan kesekolah saja. Mending bekerja tuk bantu orang tua membiayai adiknya yang masih butuh biaya.”
Dari cerita dia ku merasa sedih sekali, bukan karena ceritanya. Tetapi mengapa hal tersebut terjadi keda dia… sebagai ku ketahui dia sangat percaya kepadaku sebagai gurunya terutama dalam mata pelajaran Matematika yang ku ampu. setiap saranku selalu diperhatikan olehnya. Semangat belajarnya juga tinggi, walaupun dia bukanlah siswa yang pandai ataupun cerdas. tetapi semangat tak kenal menyerahnya yang membuatku merasa sedih sekali.
Sebagai guru honorer swasta, bantuan secara materi ku tidak mampu. Apalagi ku juga anak kost yang jauh dari rumah. Ku coba memikirkan solusi apa yang tepat baginya. Dengan meminta berbagai masukan bebarapa teman, dan mencoba meminta bantuan teman (sebut aja Dimas “anak Foto Copyan”) menyarikan lowongan kerja paruh waktu akhirnya kudapatkan info ada Counter HP yang butuh karyawan dan dapat kerja paruh waktu….
Kucoba sampaikan informasi itu kepada siswa yang bersangkutan dan awalnya mau, tetapi karena dia masuk dalam kepanitiaan perpisahan siswa kelas 9 di SMP tempat mengajarku, akhirnya ia membatalkan untuk bekerja paruh waktu dengan alasan latihan perpisahannya tidak bisa ditinggalkan karena tuntutan sebagai panitia dan juga gak enak sam teman-teman panitianya yang lain. Hanya ku berpesan, seandainya dia memang ingin mendaftarkan diri ke SMK, kuharap dia datang kesekolah dulu. minimal ku dapat sedikit membantu dan memberi pertimbangan jika dia merasa perlu.
Pada saat pendaftaran siswa baru untuk SMK dibuka, kutanyakan kepada guru-guru yang bertugas di SMP untuk penerimaan siswa baru, siswa tersebut tidak pernah datang ke sekolah. Di saat teman-temannya yang lain bersama-sama mendaftar ke jenjang berikutnya, dia tidak pernah muncul lagi. Terakhir kali ku tanyakan kepada teman seangkatannya yang sudah diterima di SMK Negeri, ternyata dia tidak melanjutkan dengan alasan masalah biaya.
Dalam pikirku, orang seperti dia sangat eman sekali jika harus putus sekolah tidak melanjutkan minimal ke jenjang SMA atau yang sederajat. Yang membuatku sangat eman adalah semangat tak kenal menyerah darinya selama 3 tahun menjadi siswaku di SMP. Disaat mayoritas siswa-siswa di negara ini kurang perhatian dengan kemampuan dirinya dan lebih suka bergantung pada orang lain, masih ada siswa yang dengan sungguh-sungguh ingin menjadikan dirinya mampu dan tidak menjadi orang yang suka bergantung pada orang lain.
Ucapan dia yang takkan membuatku lupa adalah disaat dia selesai mengerjakan soal UNAS 2009 dia bertemu denganku di koperasi sekolah dan mengatakan ” Pak tadi saya bisanya cuma separuh (20 dari 40 soal)”. Alhamdulillah, ketika keluar nilai matematikanya separuh dari nilai maksimal (5,00 dari Nilai Maksimal 10,00). Sebagi catatan dia bukanlah siswa yang pintar, bukan siswa yang cerdas, bukan dari golongan mampu dan berkecukupan, dimana dia adalah salah satu siswa yang kurang beruntung yang orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh di Usaha Kecil pembuat Batako, tapi dengan semangatnya yang tak kenal lelah ternyata dia juga bisa. walaupun secara hasil jauh dari mereka-mereka yang pintar dan cerdas.
Seandainya dia lebih beruntung kehidupannya mungkin seperti kita secara ekonomi, bukan tidak mungkin dia akan dapat menjadi seseorang yang jauh lebih mampu dari pada kita semua. Harapan saya semoga dia menjadi orang yang lebih beruntung dikemudian hari.
Harapan saya dengan menulis di Blog ini, sata ingin sekali apabila para Dermawan yang tentunya lebih mampu dari saya utamanya dari segi finansial dan terketuk hatinya untuk membantu, saya harap dengan sangat karena dia orang yang sangat membutuhkan dan wajib kita tolong. Dia adalah masa depan bangsa ini salah satu diantara siswa yang tak mudah untuk menyerah, yang sudah jarang ditemui dinegara ini.
Mungki dia tidak dapat masuk pada tahun ajaran ini, tapi taka ada salahnya bagi kita jika memang kita mampu untuk membantunya di tahun ajaran yang akan datang………..