Posted by: Si Kancil on: Juli 30, 2009
Tahun ajaran 2008/2009 bagiku terasa sangat berat. Beberapa diantara siswaku kelas 9 di SMP sering curhat kepadaku terutama mengenai kelanjutan studi mereka. Sebagai salah seorang guru mereka, ku ingin dapat membantu mengatasi segala permasalahan yang sedang mereka hadapi…..
Mengenai kelanjutan studi, ku sering diminta pertimbangan siswa-siswaku. Dari sekian dari siswa-siswaku yang meminta pertimbangan, ada seorang siswaku (seut saja “Solihin”) yang cerita bahwa ia ingin sekali melanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu masuk ke SMK Negeri, begitulah harapannya.
Dia bercerita, orang tuanya tidak mampu untuk membiayai jika harus melanjutkan sekolah lagi … Dia bilang kepadaku Pak sebenarnya saya ingin melanjutkan, tapi oleh ibu saya gak boleh dan ibu saya bilang “Wong bayar sekolah di SMP aja sulit, jadi gak usah melanjutkan kesekolah saja. Mending bekerja tuk bantu orang tua membiayai adiknya yang masih butuh biaya.”
Dari cerita dia ku merasa sedih sekali, bukan karena ceritanya. Tetapi mengapa hal tersebut terjadi keda dia… sebagai ku ketahui dia sangat percaya kepadaku sebagai gurunya terutama dalam mata pelajaran Matematika yang ku ampu. setiap saranku selalu diperhatikan olehnya. Semangat belajarnya juga tinggi, walaupun dia bukanlah siswa yang pandai ataupun cerdas. tetapi semangat tak kenal menyerahnya yang membuatku merasa sedih sekali.
Sebagai guru honorer swasta, bantuan secara materi ku tidak mampu. Apalagi ku juga anak kost yang jauh dari rumah. Ku coba memikirkan solusi apa yang tepat baginya. Dengan meminta berbagai masukan bebarapa teman, dan mencoba meminta bantuan teman (sebut aja Dimas “anak Foto Copyan”) menyarikan lowongan kerja paruh waktu akhirnya kudapatkan info ada Counter HP yang butuh karyawan dan dapat kerja paruh waktu….
Kucoba sampaikan informasi itu kepada siswa yang bersangkutan dan awalnya mau, tetapi karena dia masuk dalam kepanitiaan perpisahan siswa kelas 9 di SMP tempat mengajarku, akhirnya ia membatalkan untuk bekerja paruh waktu dengan alasan latihan perpisahannya tidak bisa ditinggalkan karena tuntutan sebagai panitia dan juga gak enak sam teman-teman panitianya yang lain. Hanya ku berpesan, seandainya dia memang ingin mendaftarkan diri ke SMK, kuharap dia datang kesekolah dulu. minimal ku dapat sedikit membantu dan memberi pertimbangan jika dia merasa perlu.
Pada saat pendaftaran siswa baru untuk SMK dibuka, kutanyakan kepada guru-guru yang bertugas di SMP untuk penerimaan siswa baru, siswa tersebut tidak pernah datang ke sekolah. Di saat teman-temannya yang lain bersama-sama mendaftar ke jenjang berikutnya, dia tidak pernah muncul lagi. Terakhir kali ku tanyakan kepada teman seangkatannya yang sudah diterima di SMK Negeri, ternyata dia tidak melanjutkan dengan alasan masalah biaya.
Dalam pikirku, orang seperti dia sangat eman sekali jika harus putus sekolah tidak melanjutkan minimal ke jenjang SMA atau yang sederajat. Yang membuatku sangat eman adalah semangat tak kenal menyerah darinya selama 3 tahun menjadi siswaku di SMP. Disaat mayoritas siswa-siswa di negara ini kurang perhatian dengan kemampuan dirinya dan lebih suka bergantung pada orang lain, masih ada siswa yang dengan sungguh-sungguh ingin menjadikan dirinya mampu dan tidak menjadi orang yang suka bergantung pada orang lain.
Ucapan dia yang takkan membuatku lupa adalah disaat dia selesai mengerjakan soal UNAS 2009 dia bertemu denganku di koperasi sekolah dan mengatakan ” Pak tadi saya bisanya cuma separuh (20 dari 40 soal)”. Alhamdulillah, ketika keluar nilai matematikanya separuh dari nilai maksimal (5,00 dari Nilai Maksimal 10,00). Sebagi catatan dia bukanlah siswa yang pintar, bukan siswa yang cerdas, bukan dari golongan mampu dan berkecukupan, dimana dia adalah salah satu siswa yang kurang beruntung yang orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh di Usaha Kecil pembuat Batako, tapi dengan semangatnya yang tak kenal lelah ternyata dia juga bisa. walaupun secara hasil jauh dari mereka-mereka yang pintar dan cerdas.
Seandainya dia lebih beruntung kehidupannya mungkin seperti kita secara ekonomi, bukan tidak mungkin dia akan dapat menjadi seseorang yang jauh lebih mampu dari pada kita semua. Harapan saya semoga dia menjadi orang yang lebih beruntung dikemudian hari.
Harapan saya dengan menulis di Blog ini, sata ingin sekali apabila para Dermawan yang tentunya lebih mampu dari saya utamanya dari segi finansial dan terketuk hatinya untuk membantu, saya harap dengan sangat karena dia orang yang sangat membutuhkan dan wajib kita tolong. Dia adalah masa depan bangsa ini salah satu diantara siswa yang tak mudah untuk menyerah, yang sudah jarang ditemui dinegara ini.
Mungki dia tidak dapat masuk pada tahun ajaran ini, tapi taka ada salahnya bagi kita jika memang kita mampu untuk membantunya di tahun ajaran yang akan datang………..
Posted by: Si Kancil on: Oktober 25, 2008
Pada suatu hari ketika menyaksikan infomersial di salah satu stasiun televisi di negeri ini, ku lihar disitu sedang ada promo produk Amerika, yaitu sebuah alat meluruskan punggung. Alat tersebut cukup kecil dan kita hanya perlu menarunya dileher. Cara kerja alat tersebut hanya merangsang agar tulang punggung kembali lurus, yang khasiatnya akan menghilangkan keluhan – keluhan yang dapat terjadi disekitar areal tersebut dan menyebabkan tubuh menjadi lebih fress dari sebelumnya. Tetapi ditawarkan dengan harga yang tak cukup murah.
Menyaksikan promo alat tersebut, ku teringat bahwa pernah membaca dalam sebuah buku bahwa ” Ruku’ dan Sujud yang sempurna dalam Sholat adalah meluruskan punggung kita”. Ku balik bertanya, Apakah ini yang merupakan sebagian rahasia dari meluruskan punggung saat Ruku’ dan Sujud. Kemudian ku coba praktekkan dalam sholat dengan sebisa mungkin meluruskan punggung pada kedua gerakan dalam Sholat tersebut. Kebetulan ku waktu itu sedang sholat Ashar. Lalu ku ulang proses tersebut pada sholat Maghrib dan Isya’ sebelum diriku tidur.
Alhamdulillah setelah ku bangun, ku merasa kakunya leher pada bangun tidur dan berbagi keluhan di punggung setelah bangn tidur jauh berkurang. Kemudian hal tersebut kulakukan selalu ketika ku melakukan Sholat. Dan sampai saat ini, ku sudah jarang mengalami keluhan pada daerah tersebut.
Ku lantas bartanya, kenapa kita tidak memikirkannya sebagai umat Islam. Tetapi mengapa justru mereka yang berbeda keyakinan dengan kita yang dapat mengambil manfaat. Seandainya kita tahu manfaatnya, berapakah dana yang bisa kita hemat untuk tidak membelinya. Alangkah lebih baiknya, jika dana yang kita anggarkan untuk membeli alat tersebut kita gunakan membantu saudara-saudara kita sesama muslim yang masih jauh dari kata sejahtera.
Mungkin inilah jawaban Mengapa Umat Islam setelah Nabi dan Sahabat – sahabatnya meninggalkan kita, justru mengalami kemunduran. Mungkin jawabannya adalah, karena kita bukanlah seorang yang selalu berfikir tentang Mengapa dalam Al-Qur’an kita diperintahkan demikian. Selama ini umat Islam rata – rata hanya sebagai user tanpa tahu mengapa kita diperintahkan demikian dan apa manfaatnya. Justru yang ditonjolkan adalah perbadaan – perbadaan sederhana antar golongan yang mengarah pada konflik dan perpecahan.
Posted by: Si Kancil on: Oktober 24, 2008
Oleh: Irfan Ari W, S.Pd
(Refleksi 3 Tahun Menjadi Guru Swasta)
Menjadi seorang guru adalah sebuah pilihan yang sangat sulit bagiku. Seorang Guru adalah public figur yang akan menjadi sorotan dari berbagai pihak, baik dari pihak lembaga (sekolah), siswa dan Masyarakat pada umumnya. Maka dari itu seorang guru dituntut sebagai seorang yang perfect minimal ketika berada diantara ketiga kelompok diatas.
Secara keilmuan, menjadi guru bukanlah pekerjaan yang terlalu sulit. Bekal ilmu yang dipelajari dibangku kuliah sudah cukup untuk menjawab segala tantangan yang ada. Pertama kali ku mengajar yaitu di sebuah YPI di Kab Jember. Tepatnya ku mengajar di MA dan SMP di lembaga tersebut.
Ketika ku terjun kesana, ternyata menjadi seorang guru tak semudah yang dibayangkan. Seorang guru harus dituntut untuk dapat membuat siswa menguasai materi yang diajarkan, tetapi juga harus mampu memberikan masukan tentang perbaikan siswa baik dalam perbaikan sikapnya (moral dan etika) maupun perbaikan pola pikir mereka yaitu membuka wawasan baru bagi siswa dalam hal ini sebagai bagian dari manajemen siswa.
Sebagai contoh, ku pernah didatangi siswa dan menyatakan ketertarikannya kepadaku. Hal ini membuatku berfikir bagaimana cara mengatasinya dan berusaha untuk memanfaatkan situasi ini untuk kepantingan pribadi. Alhamdulillah itu hanya terjadi sekali, dan selanjtnya tidak terjadi lagi.
Seorang guru juga harus menghadapi masalah – masalah yang timbul dengan rekan sekerja ataupun dengan atasan. Hal ini mungkin bisa terjadi dimana saja. Tetapi walaupun masalah seperti ini sudah umum, seorang guru harus tetap dapat menunjukkan kesolidannya untuk pengembangan siswa agar menjadi maksimal. Untuk mengatasi masalah seperti ini biasanya ku lakukan dengan mengurangi intensitas keberadaanku di dalam kantor selama waktu istirahat (kecuali ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor) dan berusaha lebih dekat ke siswa, menanyakan persoalan yang mereka hadapi, dll.
Perlu diingat juga, sorang guru tetaplah seorang manusia. Mereka tidak pernah lepas dari persoalan manusia pada umumnya. Mereka pasti memiliki persoalan pribadi masing-masing diluar dunianya sebagai guru. Hal ini yang menyebabkan tak selamanya feeling mengajar guru akan selalu bagus. Maka harus selalu dicari pemecahannya, dan selalu berusaha mengatasinya jika hal ini terjadi.
Berdasar pengalaman selama 3 tahun terakhir, kurasakan bahwa menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Guru harus menghadapi permasalahan yang begitu kompleksnya, baik dari siswa dengan segala dinamikanya, masalah yang bisa timbul dengan rekan sekerja maupun atasan, serta masalah pribadi diluar itu semua, ditambah lagi sorotan masyarakat yang sewaktu-waktu bisa muncul jika melakukan kesalahan.
Kini setelah lebih dari 3 tahun menjadi guru, ku dapat merasakan alangkah nikmatnya menjadi guru. Perasaan ini muncul bukan karena materi yang didapat melimpah, tetapi ku dapat memberikan sesuatu dalam tumbuh kembangnya siswa. Ku juga dapat mengembangkan keilmuanku, bukan hanya dalam keilmuan Matematika seperti Fak-ku, melainkan keilmuan dalam hal pengetahuan umum, moral dan agama yang akan kusampaikan kepada mereka. Sehingga selain ku berusaha memecahkan masalah yang ada pada siswa, ku juga dapat belajar dari masalah – masalah yang dihadapi siswa (dalam hal man manajemen).
Prinsip dalam menjadi guru “Janganlah profesi guru hanya untuk orientasi mencari materi. Seorang guru akan lebih berharga jika mereka dengan ikhlas dan sukarela mampu memberikan sesuatu yang terbaik bagi siswanya”
Prinsip dalam menghadapi masalah “Hadapilah masalahmu dengan cara yang sederhana dan janganlah memperumit (membesar-besarkan) masalah”.
Posted by: Si Kancil on: Oktober 24, 2008
Oleh: Irfan Ari W. S.Pd
(Nasehat Seorang Teman)
Pada suatu hari ku curhat pada temanku sebut saja pak Mynth, ku curahkan kekecewaanku pada orang tuaku yang melarang diriku memilih jalan selain menjadi seorang pendidik. Ku bercerita tentang cita-cita dimasa ku masih kecil, dimana ketika ku kecil orang tuaku selalu bercerita tentang kecerdasan dan kesuksesan bapak Prof. BJ Habibie. Dari cerita orang tuaku, ku menjadi sangat kagum dan bercita-cita ingin mengikuti kesuksesan beliau.
Awal lulus SMP ku berniat masuk STM, tetaopi pihak keluarga melarangku dan memaksaku masuk SMU (sekarang SMA). Ketika lulus SMA, ku tak berhasil Masuk ke Jurusan Teknik dan diterima di Fakultas Keguruan di Unej pada Program Matematika. Saat kuliah, ku banyak melihat bahwa tak selamanya lulusan FKIP akan menjadi guru semua. Akhirnya ku bulatkan tekat untuk mencari pekerjaan selain guru setelah lulus kuliah nanti.
Setelah lulus dan sedang menunggu wisuda, ku dapat pekerjaan sebagai guru di salah satu sekolah Swasta di Jember. Biarpun telah bekerja, ku masih ingin mencari pekerjaan yang lain selain guru. Apalagi di kota, prestise pekerjaan seorang guru masih kalah dengan pekerjaan lain. Tetapi Orang tuaku melarangku untuk pindah kerja selain guru. dan ku ingin tetap mengejar cita-citaku walaupun dibidang yang lain.
Setelah ku bercerita panjang lebar dengan pak Mynth, dia mengatakan bahwa walaupun ku tidak bisa menjadi seseorang yang berprofesi serupa dengan pak Habibie, tapi sebagai guru kita harus berupaya menciptakan Habibie-Habibie baru. Dengan cara memberikan yang terbaik bagi siswa kita.
Nasehat pak Mynth sedikit memberikan harapan bagiku. Seorang guru dapat melakukan seseatu yang lebih untuk mengabdi kepada bangsa ini. Hanya dengan menjadi guru yang baik dan mau mencurahkan segala perhatian kepada siswa, guru akan dapat menciptakan Habibie – Habibie baru. Kini harapan itu mulai ada, walaupun nantinya takkan sehabat pak Habibi, tapi ku punya siswa – siswa yang berpotensi dapat memberikan sesuatu pada bangsa ini.